PENERAPAN METODE FIELD TRIP UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PADA SISWA KELAS II SD NEGERI JUGALAJAYA

PENERAPAN METODE FIELD TRIP UNTUK
MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS
PADA SISWA KELAS II SD NEGERI JUGALAJAYA

Disusun Oleh,
Acih Sunarsih

KATA PENGANTAR
Puji syukur pada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan pembuatan karya Ilmiah perbaikan pembelajaran Matematika dengan judul” Penerapan Metode Field Trip Untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Pada Siswa Kelas II SD Negeri Jugalayajaya.”
Karya ilmiah ini dibuat untuk memenuhi tugas kuliah semester 1 , penulis berharap hasil karya ilmiah ini dapat menajdi masukan untuk pengembangan pembelajaran di sekolah tingkat dasar (SD) khususnya mata pelajaran Matematika. Terima kasih yang sebenar-benarnya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuannya baik secara moril maupun materil, khususnya kepada :
1. Bpk. Mukhsin S.Pd ( Kepala Sekolah SDN Jugalajaya )
2. Suhayati ( Teman Sejawat )
3. Rekan-rekan guru SDN Jugalajaya
Demikian karya ilmiah ini dibuat,semoga bisa bermanfaat bagi semua pihak yang membaca karya ilmiah ini.

Jasinga , 28 Mei 2011
Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………………….
IDENTITAS DAN PENGESAHAN ………………………………………………………
LAPORAN HASIL PERBAIKAN …………………………………………………………
KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………..
DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………………….
ABSTRAK …………………………………………………………………………………………..
BAB I: PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ……………………………………………………………………….
B. Rumusan Masalah ……………………………………………………………………
C. Tujuan Penelitian …………………………………………………………………….
D. Manfaat Penelitian …………………………………………………………………..
BAB II: KAJIAN PUSTAKA
A. Hasil Belajar ……………………………………………………………………….
B. Penilaian Porto Folio ……………………………………………………………..
C. Pengertian Belajar………………………………………………………………….
D. Motifasi Belajar ……………………………………………………………………
E. Media Pembelajaran ………………………………………………………………
BAB III: PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
A. Subjek Penelitian ………………………………………………………………….
B. Deskripsi per Siklus ………………………………………………………………
C. Tolok Ukur Keberhasilan ……………………………………………………….
BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi per Siklus …………………………………………………………….
1. Hasil Penelitian Siklus I …………………………………………………..
2. Hasil Penelitian Siklus II ………………………………………………….
B. Pembahasan ……………………………………………………………………….
BAB V: KESIMPULAN DAN TINDAK LANJUT
A. Kesimpulan …………………………………………………………………………
B. Saran-saran dan Tindak Lanjut ……………………………………………….
DAFTAR PUSTAKA

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada hakikatnya, pembelajaran bahasa adalah belajar berkomunikasi, mengingat bahasa merupakan sarana komunikasi dalam masyarakat. Untuk dapat berkomunikasi dengan baik, seseorang perlu belajar cara berbahasa yang baik dan benar. Pembelajaran tersebut akan lebih baik manakala dipelajari sejak dini dan berkesinambungan. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa disertakan dalam kurikulum. Hal ini dilakukan agar peserta didik mampu menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan benar serta mampu menerapkannya dalam kehidupan masyarakat.
Menulis merupakan suatu kegiatan berbahasa yang bersifat aktif dan produktif , merupakan kemampuan yang menuntut adanya kegiatan encoding yaitu kegiatan untuk menghasilkan atau menyampaikan bahasa ke pihak lain melalui tulisan. Kegiatan berbahasa yang produktif adalh kegiatan menyampaikan gagasan, pikiran atau perasaan oleh pihak penutur, dalam hal ini penulis. Sebenarnya kegiatan produktif terdiri dari dua macam yaitu berbicara dan menulis. Meskipun sama-sama merupakan kegiatan produktif , kegiatan tersebut mempunyai perbedaan yang utama, yaitu pada media dan sarana yang digunakan. Aktivitas menulis salah satu manifestasi kemampuan (dan keterampilan) berbahasa paling akhir yang dikuasai pembelajar bahasa setelah mendengarkan, membaca dan berbicara (Nugriyanto, 2001 : 296).
Dalam buku yang juga sama dijelaskan apabila dibandingkan dengan keterampilan berbahasa yang lain, kemampuan menulis lebih sulit dikuasai oleh pembelajar bahasa karena kemapuan menulis menghendaki penguasaan berbagai aspek lain diluar bahasa, untuk menghasilkan paragraf atau wacana yang runtut dan padu. Kesimpulan tersebut diperkuat dengan adanya fakta bahwa media atau sumber belajar yang variatif tidak dimunculkan oleh guru. Sumber belajar diluar guru yang dapat dimanfaatkan oleh siswa yaitu buku teks dan LKS bahasa Indonesia.
Oleh karena itu, suasana belajar mengajar tentang keterampilan menulis menjadi membosankan dan siswa merasa jenuh mengikuti proses pembelajaran tersebut. Selain siswa belum mampu mengidentifikasikan sebuah peristiwa ataupun gambaran yang ada dalam pikiran masing-masing untuk dirangkai kedalam bentuk tulisan atau dalam kata lain siswa kurang dapat menggali ide dan gagasan. Padahal guru sudah menentukan tema tulisan secara jelas. Fenomena yang saat ini terjadi dalam pembelajaran menulis disekolah, khususnya SD Negeri Jugalayajaya berdasarkan hasil survey yang telah dilaksanakan menunjukkan rendahnya kualitas proses dan hasil pembelajaran menulis siswa kelas II.
Penggunaan metode yang tepat agar bisa memperbaiki dan meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis. Selain itu cara mengajar guru harus menggunakan teknik pembelajaran yang bervariasi secara kreatif. Merujuk pada segala permasalahan diatas, penulis dan teman sejawat yang berprofesi sebagai guru membuat berbagai solusi dalam pembelajaran menulis salah satunya pada penggunaan metode.
Penelitian tentang peningkatan keterampilan menulis dengan menggunakan metode field trip dilakukan karena melihat kondisi siswa dalam menerima materi menulis belum sesuai dengan harapan. Selain itu, peneliti beranggapan metode pengajaran dan pembelajaran yang digunakan oleh guru dengan metode ceramah dan media contoh-contoh belum mengalami perubahan terhadap hasil pekerjaan siswa akan berpersepsi negative terhadap materi menulis, karena metode dan media yang digunakan terkesan membosankan dan membingungkan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah diatas, rumusan masalah dalam karya ilmiah ini adalah :
1. Apakah penerapan metode field trip dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis siswa kelas II SD Negeri Jugalajaya?
2. Apakah penerapan metode field trip dapat meningkatkan kualitas hasil pembelajaran menulis siswa kelas II SD Negeri Jugalajaya?

C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian bagi penulis adalah sebagai berikut :
• Untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis siswa kelas II SD Negeri Jugalajaya melalui penerapan metode field trip.
• Untuk meningkatkan kualitas hasil pembelajaran menulis siswa kelas II SD Negeri Jugalajaya melalui penerapan metode field trip.

D. Manfaat Penelitian
a. Bagi Siswa
- Memberi kemudahan siswa untuk menemukan ide tulisan.
- Menjadikan suasana pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa
- Meningkatkan kemampuan menulis siswa.
b. Bagi Guru
- Mengatasi kesulitan pembelajaran menulis yang dialami guru
- Menjadi acuan bagi guru untuk membuat pembelajarn menulis lebih kreatif dan inovatif.
c. Bagi Peneliti
- Mengaplikasikan teori yang diperoleh.
- Menambah pengalaman peneliti dalam penelitian yang terkait dengan pembelajaran menulis.

II. KAJIAN PUSTAKA
1. Pengertian dan Tujuan Menulis
Menulis merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa. Menulis bukanlah hal sulit namun tidak juga dikatakan mudah. Menulis dikatakan bukan hal yang sulit bila menulis hanya diartikan sebagai aktivitas menungkapkan gagasan melalui lambang-lambang grafis tanpa memperhatikan unsure penulisan dan unsur diluar penulisan seperti pembaca. Sementara itu, sebagian besar orang berpendapat bahwa menulis bukan hal yang mudah sebab diperlukan banyak bekal bagi seseorang untuk keterampilan menulis.
Nurgiantoro (2001 : 273) mengungkapkan bahwa menulis adalah aktivitas mengungkapkan gagasan melalui media bahasa. Batasan yang dibuat Nurgiantoro sangat sederhana, menurutnya menulis hanya sekedar mengungkapkan ide, gagasan, atau pendapat dalam bahasa tulis. Lepas dari mudah atau tidaknya tulisan tersebut dipahami oleh pembaca. Pendapat senada disampaikan oleh semi ( 1993 : 47) menyatakan menulis sebagai tindakan pemindahan pikiran atau perasaan dalam bahasa tulis dengan menggunakan lambing-lambang atau grafem.
Berbeda dari pakar diatas, Gie ( 2002 : 3) berpendapat bahwa menulis disitilahkan mengarang yaitu segenap rangkaian kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis kepada masyarakat pembaca untuk dipahami. Dengan mencermati pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa menulis tidak hanya mengungkapkan gagasan melalui media bahasa tulis saja tetapi juga meramu tulisan tersebut agar dapat dipahami oleh pembaca. Pendapat senada siampaikan oleh Tarigan (1983 : 21) yang menyatakan bahwa menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambing-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik kalau mereka memahami bahasa dan gambar grafik yang sama, lambang-lambang grafik yang dimaksud oleh Tarigan adalah tulisan atau tulisan yang disertai gambar-gambar dan symbol-simbol.
Dari pendapat diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa setidaknya ada tiga hal yang ada dalam aktifitas menulis yaitu : adanya idea tau gagasan yang melandasi seseorang untuk menulis, adanya media berupa tulis, dan adanya tujuan menjadikan pembaca memahami pesan atau informasi yang disampaikan oleh penulis. Susiamiharja (1997:10) secara lebih terang menyatakan bahwa tujuan dari menulis adalah agar tulisan yang dibuat dapat dibaca dan dipahami oleh orang lain yang mempunyai kesamaan pengertian terhadap bahasa yang dipergunakan.

2. Pembelajarn Menulis Di Sekolah
A. Hakikat Belajar dan Pembelajaran
Belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hal atau tujuan , bukan hanya mengingat melainkan juga mengalami . Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan merupakan perilaku. Belajar sebagai suatu proses yang komplek dan berkesinambungan memiliki unsur-unsur dinamis didalamnya, antara lain :
• Motivasi Siswa
Motivasi merupakan dorongan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan atau tindakan. Motivasi belajar dapat bersumber dari siswa dan rangsangan dari luar siswa.
• Bahan Belajar
Bahan belajar merupakan hal yang diajarkan kepada siswa. Dalam menentukan bahan belajar guru harus memperhatikan dan menyesuaikannya dengan tujuan belajar
• Alat Bantu Belajar
Alat bantu belajar dapat disebut alat peraga atau media belajar. Media belajar merupakan peralatan yang digunakan selama proses belajar supaya proses tersebut dapat berjalan dengan baik .
• Suasana Belajar
Suasana belajar merupakan kondisi yang tercipta selama proses belajar. Suasana sangat mendukung keberhasilan belajar siswa dan dapat menimbulkan motivasi siswa.
• Kondisi Subjek Belajar
Kondisi subjek belajar tidal lain adalah siswa itu sendiri. Kondisi siswa turut membantu keberhasilan pembelajaran mengingat dalam proses pembelajaran terdapat tiga hal pokok yakni input, proses dan output. Sedangkan pembelajaran mengandung arti setiap kegiatan yang dirancang untuk seseorang mempelajari suatu kemampuan atau nilai yang baru (Sagala, 2006 : 61). Lebih lanjut bahwa pembelajaran adalah suatu proses dimana lingkungan seseorang secara sengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan sebuah respon terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan subjek khusus dari pendidikan.
Sementara itu karakteristik pembelajaran dibagi menjadi dua, sebagai berikut :
 Dalam proses pembelajaran melibatkan proses mental siswa secara maksimal, bukan hanya menuntut siswa sekedar mendengarkan, mencatat, akan tetapi menghendaki aktivitas siswa dalam proses berpikir.
 Dalam pembelajaran dibangun suasana dialogis dan proses Tanya jawab terus menerus yang diarahkan untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan berpikir siswa, yang pada gilirannya kemampuan berpikir itu dapat membantu memperoleh pengetahuan yang mereka konstruksikan sendiri
B. Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia
Tujuan merupakan hal esensial dan harus ada dalam sebuah kegiatan, termasuk dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Tujuan akan memberikan peranan yang kuat bagi guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Secara umum tujuan pembelajaran bahasa Indonesia berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang tercantum dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) sebagai berikut :
 Peserta didik menghargai dan membanggakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) dan bahasa Negara.
 Peserta didik memahami dari segi bentuk, makna, dan fungsi serta menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk bermacam-macam tujuan, keperluan dan keadaan.
 Peserta didik memiliki kemampuan intelektual, kematangan emosiaonal dan kematangan sosial.
 Peserta didik memiliki disiplin dalam berpikir dan berbahasa (berbicara dan menulis).
 Peserta didik mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
 Peserta didik menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khasanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
C. Pembelajaran Menulis
Dalam pembelajaran menulis guru harus dapat membuat siswa mampu mengungkapkan gagasan yang terdapat dalam benaknya dalam bentuk tulisan dengan menggunakan tanda baca, struktur ejaan yang benar, serta kalimat yang runtut yang akan menghasilkan paragraf yang baik. Nababan (1993 : 183-189) menyatakan bahwa pembelajaran menulis dapat dirancang dengan aktivitas sebagai berikut :
 Menjalin suatu bacaan atau dialog dalam bahasa target secara harfiah tanpa kesalahan.
 Mengarang dengan bantuan gambar.
 Menulis table pengganti unsur dalam arti yakni analogi dari kalimat dan unsur rangsangan dari guru.
 Guru member respon atau jawaban pada ucapan pembicaraan yang belum ada (kosong) siswa menjawab dengan memilih ucapan mana dan situasi apa yang cocok dengan respon tersebut.
 Mengisi atau menyelesaikan dialog yang diberikan guru.
 Mengalihkan informasi dari satu bentuk ke bentuk yang lain.
 Guru memberikan tugas sederhana kepada siswa.
Pembelajaran menulis sebagai suatu keterampilan berbahasa, menulis merupakan suatu aspek
yang harus diajarkan kepada siswa yang terangkum dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Di
dalam kurikulum saat ini untuk kelas II ada beberapa keterampilan menulis yang harus
dikuasai oleh siswa. Salah satu kemampuan menulis yang harus dikuasai siswa kelas II adalah
menulis.

D. Penilaian Menulis
Penilaian yang dilakukan pada karangan siswa biasanya bersifat holistik, impresif, dan selintas. Maksudnya adalah penilaian tersebut bersifat menyeluruh berdasarkan kesan yang diperoleh dari pembaca secara selintas. Guru cenderung melakukan penilaian yang bersifat analisis karena guru memerlukan penilaian secara lebih objektif dan terinci mengenai kemampuan siswa untuk keperluan diagnosikedukatif (Nurgiantoro, 2001:305).
Penilaian yang bersifat holistic memang diperlukan. Akan tetapi, agar guru dapat menilai secara lebih objektif dan dapat memperoleh informasi yang lebih terinci tentang kemampuan siswa untuk keperluan diagnostic-edukatif, penilaian hendaknyasekaligus disertai dengan penilaian yang bersifat analitis ( Zainal Machmoed dalam Nurgianto : 2001 : 305).
Model penilaian analisis dapat dilakukan dengan menggunakan skala, dengan pembobotan masing-masing unsure (persekoran), atau interval. Berdasarkan konsep-konsep tentang menulis yang telah dipaparkan sebelumnya, model penilaian tugas menulis dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
TABEL I
Contoh model penilaian tugas menulis dengan skala 1-10

Tabel 2.
Contoh model penilaian tugas menulis dengan pembobotan masingmasing
unsur.

3. Hakekat Metode Pembelajaran
Metodologi adalah tata cara memudahkan sehingga dalam proses belajar-mengajar perlu dicapai dan dikembangkan oleh guru (Nababan,1993:3). Oleh karena itu, dalam belajar bahasa perlu dikembangkan metodologi pengajaran bahasa secara cermat sesuai dengan kebutuhan, situasi,dan kondisi siswa. Metodologi dalam pengajaran bahasa mengacu pada prosedur dan aktivitas yang akan digunakan untuk mengajarkan silabus agar memudahkan dalam mengajar bahasa. Seorang guru selalu berusaha menggunakan metode mengajar yang paling efektif dan memakai alat atau media yang terbaik. Pelaksanaan pembelajaran bahasa sangat dipengaruhi oleh pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh guru. Pendekatan sangat berpengaruh terhadap penentuan tujuan pembelajaran, metode, teknik apa yang digunakan. Istilah pendekatan, metode, dan teknik sering dipakai secara tumpang tindih. Metode pembelajaran tidak ada yang sempurna. Setiap metode selalu memiliki kekurangan dan kelebihan. Meskipun selalu banyak dilakukan penelitian dan eksperimen yang diadakan mengenai metode-metode mana yang paling efektif, tetapi masih tetap sulit untuk membuktikan secara ilmiah metode mana yang paling baik (Nababan, 1993: 150-151) Kadang-kadang dalam proses belajar siswa perlu diajak ke luar sekolah, untuk meninjau tempat-tempat atau objek yang lain. Salah satu metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran menulis deskripsi adalah field trip.
Field trip dapat diartikan sebagai kunjungan atau karyawisata. Menurut Roestiyah (2001: 85) field trip bukan sekedar rekreasi, tetapi untuk belajar atau memperdalam pelajaran dengan melihat kenyataan. Karena itu dikatakan teknik field trip yaitu cara mengajar yang dilakukan dengan mengajak siswa ke suatu tempat atau objek tertentu di luar sekolah untuk mempelajari atau menyelidiki sesuatu seperti meninjau pabrik sepatu, suatu bengkel mobil, toko serba ada, dan sebagainya.
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Sagala (2006: 214) field trip adalah pesiar yang dilakukan oleh para peserta didik untuk melengkapi pengalaman belajar tertentu dan merupakan bagian integral dari kurikulum sekolah. Dengan field trip sebagai metode belajar mengajar, anak didik dibawah bimbingan guru mengunjungi tempat-tempat tertentu dengan maksud untuk belajar.
Adapun tujuan teknik ini adalah dengan melaksanakan field trip diharapkan siswa dapat memperoleh pengalaman langsung dari objek yang dilihatnya, dapat turut menghayati tugas pekerjaan milik seseorang serta dapat bertanggung jawab. Mungkin dengan jalan demikian mereka mampu memecahkan persoalan yang dihadapi dalam pembelajaran (Roestiyah, 2001:85).
Metode field trip mempunyai beberapa kebaikan, antara lain ialah 1) anak didik dapat mengamati kenyataan-kenyataan yang beragam dari dekat, 2) anak didik dapat menghayati pengalaman-pengalaman baru dengan mencoba turut serta di dalam suatu kegiatan, 3) anak didik dapat menjawab masalah – masalah atau pertanyaan-pertanyaan dengan melihat, mendengar, mencoba, atau membuktikan secara langsung, 4) anak didik dapat memperoleh informasi dengan jalan mengadakan wawancara atau mendengarkan ceramah yang diberikan on the spor dan, 5) anak didik dapat mempelajari sesuatu secara interna l dan komprehensif (Sagala, 2006 215).
Adapun menurut Roestiyah (2001: 87) keunggulan metode field trip antar lain sebagai berikut:
a. Siswa dapat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang dilakukan petugas pada objek
karyawisata itu, serta mengalami dan menghayati langsung apa pekerjaan mereka.
b. Siswa dapat melihat berbagai kegiatan para petugas secara individu maupun secara kelompok dan
dihayati secara langsung yang akan memperdalam dan memperluas pengalaman mereka.
c. Dalam kesempatan ini siswa dapat bertanya jawab, menemukan sumber informasi yang pertama
untuk memecahkan segala persoalan yang dihadapi.
d. Dengan objek yang ditinjau itu siswa dapat memperoleh bermacam-macam pengetahuan dan
pengalaman yang terintegrasi.

III. PELAKSANAAN PERBAIKAN PEMBELAJARAN
A. Subjek Penelitian
Penelitian ini dilakukan di kelas II SD Negeri I Tertek Kecamatan Tulungagung Kabupaten Tulungagung. Penelitian dilakukan pada tahun pelajaran 2010/ 2011. Pemilihan lokasi penelitian ini didasarkan atas pertimbangan efisiensi dan efektifitas kegiatan penelitian. Selain pertimbangan tersebut keseluruhan peneliti akan betul-betul menyatu dengan obyek penelitian. Hal itu disebabkan peneliti merupakan salah satu guru disekolah tersebut.
Pelaksanaan penelitian dilakukan pada semester I, tahun pelajaran 2010/ 2011 dalam 2 kali pertemuan, yaitu tanggal 23 Agustus 2010 dan 4 September 2010.
Subjek penelitian adalah siswa kelas II SD Negeri Jugalajaya Kecamatan Jasinga Kabupaten Bogor tahun ajaran 2010 / 2011, sebanyak 42 siswa terdiri dari 12 laki-laki dari 30 perempuan.

B. Deskripsi Per Siklus
A. Perencanaan
1. Melakukan survei awal tentang pembelajaran menulis deskripsi di kelas II SDN
Jugalajaya.
2. Mengidentifikasi masalah pembelajaran menulis deskripsi yang terdapat di kelas II
SDN Jugalajaya
3. Menganalisis masalah dengan mengacu pada teori-teori yang relevan.
4. Menyusun bentuk tindakan yang sesuai untuk mengatasi permasalahan yang
ditemukan dengan memanfaatkan metode field trip pada siklus pertama dan kedua.
5. Menyusun jadwal penelitian dan rancangan pelaksanaan tindakan; serta
6. Menyusun lembar observasi dan lembar evaluasi kerja

B. Tahap Pelaksaan Tindakan
1. Rancangan Siklus I
a) Tahap Perencanaan
Pada tahap ini peneliti dan guru menyusun:
1) Perangkat pembelajaran, berupa penentuan kompetensi dasar yang akan dicapai.
2) Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
b) Tahap Pelaksanaan
Siklus I dilaksanakan pada hari Senin 23 Agustus 2010. Sedangkan proses pembelajarannya sebagai berikut:
 Guru membuka pelajaran
 Guru memberikan apersepsi mengenai kemampuan menulis siswa
Guru memberikan materi tentang menulis.
 Guru memberikan penjelasan tentang metode pembelajaran yang akan dilakukan.
 Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi maupun
metode pembelajaran.
 Guru bersama dengan siswa melakukan field trip ke suatu tempat yang telah
ditentukan.
 Guru membagikan lembar kerja dan menugaskan siswa untuk menulis berdasarkan
hasil observasi.
c) Tahap Observasi
Tahap ini dilakukan dengan mengamati dan menginterpretasi aktivitas pemanfaatan metode field trip pada proses pembelajaran (aktivitas guru dan siswa) maupun pada hasil pembelajaran menulis yang telah dilaksanakan untuk mendapatkan data tentang kelebihan dan kekurangan pelaksanaan tindakan. Pengamatan difokuskan pada situasi pelaksanaan pembelajaran, kegiatan yang dilakukan guru, dan aktivitas siswa dalam pembelajaran, yang kemudian digunakan utuk menyusun rancangan perlu atau tidaknya tindakan berikutnya.
d) Tahap Analisis dan Refleksi
Pada tahap ini, dilakukan analisis hasil observasi dan interpretasi sehingga diperoleh kesimpulan hal-hal yang perlu diperbaiki atau disempurnakan dan yang telah memenuhi target. Analisis dilakukan dengan meninjau kembali hasil observasi dan interpretasi terhadap tindakan yang telah dilakukan. Selanjutnya, dilakukan refleksi untuk mengetahui beberapa kekurangan yang muncul dalam pelaksanaan tindakan tersebut. Setelah itu, ditentukan tindakan yang harus dilakukan untuk mengatasi kekurangan yang muncul sekaligus sebagai langkah perbaikan pada pembelajaran berikutnya.

2. Rancangan Siklus II

a) Tahap Perencanaan
Masih sama seperti pada siklus I, pada tahap ini peneliti dan guru menyusun:
1) Perangkat pembelajaran, berupa penentuan kompetensi dasar yang akan dicapai. 2) Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

b) Tahap Pelaksanaan
Siklus II dilaksanakan pada hari Sabtu, 4 September 2010. Sedangkan proses pembelajarannya sebagai berikut:
 Guru membuka pelajaran.
 Guru mengulas kembali pelajaran yang telah lalu
 Guru memberikan materi tentang tata cara menulis yang baik.
 Guru mengingatkan kembali metode pembelajaran yang akan dilakukan.
 Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya tentang materi maupun metode
pembelajaran.
 Guru bersama dengan siswa melakukan field trip ke suatu tempat yang telah ditentukan.
 Guru membagikan lembar kerja dan menugaskan siswa untuk menulis berdasarkan hasil
observasi.

c) Tahap Observasi
Tahap ini dilakukan dengan mengamati dan menginterpretasi aktivitas pemanfaatan metode field trip pada proses pembelajaran (aktivitas guru dan siswa) maupun pada hasil pembelajaran menulis yang telah dilaksanakan untuk mendapatkan data akhir pelaksanaan tindakan. Pengamatan difokuskan pada situasi pelaksanaan pembelajaran, kegiatan yang dilakukan guru, dan aktivitas siswa dalam pembelajaran.

d) Tahap Analisis dan Refleksi
Pada tahap ini, dilakukan analisis hasil observasi dan interpretasi sehingga diperoleh kesimpulan akhir hasil pembelajaran. Analisis dilakukan dengan meninjau kembali hasil observasi dan interpretasi terhadap tindakan yang telah dilakukan mulai dari awal siklus hingga akhir. Selanjutnya, dilakukan refleksi untuk mengetahui tingkat kemajuan siswa dalam menulis dengan menggunakan metode fiel trip.

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Per Siklus
1. Siklus I
a. Perencanaan Tindakan
Kegiatan perencanaan ini dilaksanakan dengan guru Bahasa Indonesia. Adapun hal-hal yang didiskusikan antara lain : (1) peneliti menyamakan persepsi dengan guru mengenai penelitian yang dilakukan, (2) peneliti me ngusulkan diterapkannya metode field trip dalam pembelajaran menulis serta menjelaskan cara penerapannya, (3) peneliti dan guru bersama-sama menyusun RPP untuk siklus I, (4) peneliti dan guru bersama-sama merumuskan indikator pencapaian tujuan, (5) guru dan peneliti bersama-sama membuat lembar penilaian siswa yaitu instrument penelitian berupa tes dan nontes. Instrument tes digunakan untuk menilai hasil tulisan siswa. Instrument nontes digunakan untuk menilai sikap siswa dalam pembelajaran menulis. Instrument nontes ini berbentuk pedoman observasi, (6) menentukan jadwal pelaksanaan tindakan.
Adapun urutan tindakan yang direncanakan diterapkan dalam siklus I sebagai berikut:
1) Guru membuka pelajaran.
2) Guru menjelaskan kepada siswa tentang prosedur pembelajaran menulis dengan
metode field trip yang akan dilakukan.
3) Siswa diajak berkunjung ke lingkungan sekitar sekolah yakni halaman belakang
sekolah.
4) Di lokasi, siswa mencatat poin-poin yang berisi hal- hal yang mereka lihat dan
mereka jumpai.
5) Setelah kembali ke kelas, siswa mengembangkan poin-poin hasil pengamatan
tersebut menjadi karangan atau tulisan
6) Guru meminta siswa mengumpulkan tugasnya.
7) Guru menutup pelajaran.

b. Pelaksanaan Tindakan
Seperti yang telah direncanakan sebelumnya, tindakan siklus I dilaksanakan dalam sekali pertemuan yaitu Senin, 23 Agustus 2010 diruang kelas II SDN Jugalajaya dengan durasi waktu 2X35 menit. Guru memulai kegiatan belajar mengajar (KBM) Bahasa Indonesia dengan membaca basmalah sebagai pembuka pelajaran dan mengkondisikan agar siswa siap mengikuti pelajaran. Peneliti menempatkan diri sebagai pertisipan pasif dengan berada di kursi bagian belakang sehingga peneliti dapat mengamati jalannya kegiatan belajar mengajar tanpa
mengganggu proses belajar mengajar yang sedang berlangsung.
Pada langkah awal, guru memberi apersepsi mengenai pembelajaran keterampilan menulis. Guru menjelaskan secara singkat mengenai hasil karangan pada pretes. Guru memberikan penjelasan pada siswa bahwa hasil karangan mereka masih ditemukan beberapa kekurangan, guru juga menunjuk letak atau contoh-contoh kesalahan yang sering dilakukan oleh siswa. Kemudian guru menunjukkan tata cara penulisan karangan yang benar.
Setelah memberikan penjelasan teori kemudian guru menjelaskan petunjuk secara lisan mengenai kegiatan mengarang yang akan dilakukan kali ini. Siswa tidak langsung diminta membuat karangan tetapi sebelumnya siswa akan diajak untuk berkunjung kehalaman belakang sekolah. Guru juga menjelaskan perihal tugas yang harus dikerjakan siswa ketika berada di perumahan. Siswa diminta mencatat hal-hal yang dilihat atau dijumpai selama berkunjung ke perumahan. Setelah merasa penjelasan yang diberikan sudah cukup, guru mengajak siswa bersiap-siap dan segera menuju halaman belakang sekolah.
Semua siswa segera menyiapkan alat tulis. Guru dan peneliti memandu siswa menuju ke halaman belakang sekolah. Sesampai dihalaman belakang sekolah, mereka segera melakukan pengamatan terhadap pemandangan di sana sekitar 20 menit. Setelah merasa cukup guru mengajak siswa untuk kembali ke sekolah.
Sesampai di kelas siswa beristirahat sebentar sambil bertukar pendapat seputar hasil amatan di halaman belakag sekolah tadi dengan siswa lain. Setelah siswa siap, guru membagikan lembar kertas untuk mengarang kepada siswa. Siswa kemudian mengumpulkan hasil karangannya setelah waktu yang diberikan selesai. Diakhir pembelajaran guru tidak lupa untuk menutup pembelajaran dengan membaca hamdalah.
c. Pengamatan (Observasi)
Pengamatan dan pemantauan dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran baik di ruang kelas maupun pada saat berkunjung ke halaman belakang sekolah. Pengamatan ini dilakukan untuk mengetahui keaktifan, semangat, dan motivasi siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis dengan metode field trip. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan peneliti, diperoleh hasil sebagai berikut:

 Guru masih berperan sebagai aktor tunggal dalam pembelajaran, artinya guru masih
mendominasi pelajaran,
 Beberapa siswa belum tertib, efektif, dan rajin pada saat mengikuti pembelajaran baik
sewaktu dikelas maupun di lapangan,
 Keaktifan siswa untuk mengajukan dan menjawab pertanyaan dari guru masih belum
terlihat. Sebagian besar mereka memilih bertanya kepada teman-temannya daripada
bertanya langsung kepada guru. Dari pantauan peneliti keaktifan siswa hanya mencapai 60%.
Siswa sudah merespon penggunaan metode field trip yang diberikan oleh peneliti, siswa
tampak senang ketika menyelesaikan tugas menulis dari guru,
 Siswa laki-laki terlihat belum mandiri dalam mengerjakan tugas,mereka mengerjakan tugas secara berkelompok dengan teman sebangku/teman yang duduk di depan dan di belakangnya,
 Guru bekeliling untuk memeriksa pekerjaan siswa dan memastikan tidak ada siswa yang
mengganggu teman lain atau mencontek tugas temannya,
 Guru belum memberi simpulan materi yang diajarkan,
 Guru belum mampu membangkitkan minat siswa untuk bertanya
dan aktif dalam merespon kegiatan pembelajaran,
 Metode yang dilakukan guru adalah field trip, ceramah, Tanya
jawab, dan penugasan

d. Analisis dan Refleksi
Berdasarkan hasil observasi tersebut, peneliti dan guru melakukan analisis terhadap hasil tulisan deskripsi siswa. Adapun hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa: (1) kemampuan siswa dalam menuangkan ide/gagasan ke dalam bentuk karangan mengalami peningkatan jika dibanding dengan hasil pretes.(2) siswa masih kesulitan dalam mencari kata-kata dan kalimat yang tepat untuk menulis, (3) nilai/skor perolehan terendah siswa diperoleh 1 orang siswa dengan jumlah keseluruhan 45, sedangkan nilai tertinggi diperoleh 1 orang siswa dengan jumlah keseluruhan 74, (4) Ketuntasan hasil belajar menulis deskripsi siswa mencapai 38,09%. Hal ini terlihat dari hasil kerja tulisan siswa berupa tulisan deskripsi dan dihitung dari jumlah siswa yang memperoleh nilai 65 ke atas yaitu 16 siswa. Untuk lebih jelasnya, nilai menulis deskripsi siswa pada siklus I dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 3. Perolehan Nilai Menulis Deskripsi Pada Siklus
No Nama Siklus I Jumlah
I II III IV V
(1-30) (1-25) (1-20) (1-5) (1-10)
1 Nuria Yunita Putri 25 20 14 10 5 74
2 Fety Widiawati 20 17 15 11 3 66
3 Khusnul Khotimah 20 15 15 7 3 60
4 Poppy Septiana 20 15 15 12 5 67
5 Zainal Muztafa 20 15 15 11 4 65
6 Wahyuningsih 15 15 12 12 3 57
7 Lastri yani 20 15 12 10 3 60
8 Fatimah Nur Rochim 20 20 10 11 4 65
9 Arofah Rita 20 15 10 11 4 60
10 R. Adinda 20 15 15 8 3 61
11 Titis suci Sukmawati 20 15 11 8 3 57
12 Ana Astiana 20 20 10 11 4 65
13 Muhamad Syaeful 20 15 15 10 3 63
14 Mujiati 20 20 15 10 4 69
15 Khairul Mukaromah 20 15 10 11 4 60
16 Dani setyawati 20 20 11 10 4 65
17 Anis Mutmainah 25 20 11 8 4 68
18 Sumarti 20 20 15 10 3 68
19 Nia Agustina 20 20 10 10 3 63
20 Az Zahrawani 20 15 15 11 4 65
21 Mega Nanda 20 15 11 10 3 59
22 Emy Ayu Ningsih 15 15 10 7 3 50
23 Yulianti 20 15 10 15 3 63
24 Arfi Anjani 20 15 11 12 3 61
25 Anis Dwi Wibowo 20 15 10 8 3 56
26 Tuti Lestari 20 20 10 11 4 65
27 Nur Dwi Handayani 20 15 10 8 3 56
28 Rita Dwi Astuti 20 15 10 8 3 56
29 Kushadiana 20 15 12 10 3 60
30 Agus Sulistianto 20 15 10 10 3 58
31 Joko Santoso 20 15 15 8 4 62
32 Anggun Larasati 20 20 11 12 4 67
33 Rosita Dewi 20 15 10 10 5 60
34 Ira Pramuda 15 10 11 8 4 48
35 Ade Candra 15 15 10 8 2 50
36 M. Alfian, F.W 20 20 11 11 4 66
37 Rita Prasetyo 20 20 10 10 3 63
38 Robi Santoso 15 15 10 7 3 50
39 Wahyu L 20 20 10 10 3 63
40 Indri 20 15 11 8 3 57
41 Nurul Rahmawati 20 20 11 10 5 66
42 Jeffri 15 15 10 8 2 50

Ket : I : Isi
II : Organisasi
III : Tata Bahasa
IV : Kosakata
V : Ejaan
- : siswa tidak masuk
Akan tetapi masih ditemukan kesalahan dan kekurangan pada tulisan siswa antar lain:
(1) siswa masih kesulitan menggali ide dan menuangkannya dalam bentuk kata/kalimat hal ini terbukti dari jumlah kata dalam karangan mereka sedikit, (2) apabila siswa menemukan kesulitan
dalam menulis, siswa tidak berani bertanya kepada guru tetapi cenderung lebih suka bertanya pada temannya. Hal ini dilakukan siswa untuk menyamakan persepsi siswa dalam menyusun alur cerita, (3) siswa menuliskan hasil amatan masih secara dangkal dan belum begitu mendetail terhadap objek, (4) banyak tulisan siswa yang sama dengan milik temannya, hal ini berarti mereka masih mengerjakannya secara kelompok, (5) masih ada beberapa siswa yang kurang tepat dalam memilih diksi dalam paragraf, (6) minat dan motivasi siswa dalam pembelajaran keterampilan menulis masih perlu ditingkatkan, (7) keaktifan siswa dalam pembelajaran belum maksimal. Situasi pembelajaran masih pasif. Guru menerangkan dan murid mendengarkan. Guru masih mendominasi kegiatan pembelajaran sehingga siswa mendapatkan kesempatan yang terbatas untuk turut aktif dalam pembelajaran, (8) siswa masih kurang memperhatikan pembelajaran. Beberapa dari mereka masih bebicara dengan temannya dan sibuk sendiri. Oleh karena itu, peneliti dan guru merasa bahwa hasil penelitian ini belum maksimal. Peneliti dan guru kemudian berencana untuk melanjutkan tindakan pada siklus selanjutnya.
2. Siklus II
a. Perencanaan Tindakan
Urutan kegiatan pembelajaran yang direncanakan dalam siklus II sebagai berikut:
1) Guru membuka pelajaran dengan mengucapkan salam.
2) Guru mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran bahasa Indonesia.
3) Guru memberikan motivasi pada siswa dengan memaparkan manfaat/ keuntungan menulis.
4) Guru merefleksi beberapa tulisan siswa pada siklus I di depan kelas.
5) Guru memberikan reward kepada siswa yang memperoleh nilai menulis deskripsi tertinggi
ada siklus I.
6) Guru menanyakan kesulitan yang dihadapi siswa dalam menulis pada siklus I.
7) Guru menjelaskan kepada siswa tentang prosedur pembelajaran menulis dengan metode
field trip yang akan dilakukan.
8) Siswa diajak berkunjung ke lingkungan sekitar untuk melihat dan mengamati Masjid
Baiturrohmannurrohim Desa Kembang Kuning.
9) Di masjid siswa mencatat poin-poin yang berisikan ha-hal yang mereka lihat dan mereka
temui selama berada di masjid.
10) Setelah kembali ke kelas, siswa mengembangkan poin-poin amatan tersebut menjadi
karangan.
11) Siswa mengumpulkan hasil pekerjaannya.
12) Guru menyimpulkan pembelajaran, siswa diberi waktu bertanya.
13) Guru menutup pelajaran.

b. Pelaksanaan Tindakan
Sebagaimana yang telah direncanakan, tindakan pada siklus II dilaksanakan dalam satu pertemuan, yaitu Sabtu, 4 September 2010 di ruang kelas II SDN I Tertek. Guru memulai pembelajaran dengan membuka pelajaran dan mengkondisikan siswa agar siap mengikuti pembelajaran. Peneliti menempatkan diri sebagai partisipan pasif dan berada di kursi bagian belakang sehingga peneliti dapat mengamati jalannya kegiatan belajar mengajar tanpa mengganggu jalannya pelajaran yang sedang berlangsung. Guru mengulas kembali hasil tulisan siswa pada siklus I juga menunjukkan kesalahan yang sering dilakukan siswa dalam menulis. Guru juga memberi pujian pada siswa yang karangannya cukup baik dan tak lupa pula guru memberikan motivasi pada siswa yang hasil tulisannya kurang memuaskan. Kemudian guru memberikan pengarahan tentang kegiatan pembelajaran menulis yang akan dilakukan pada hari ini. Guru menjelaskan kalau kegiatan menulis hari ini akan dilakukan seperti pada kegiatan yang lalu. Mereka akan diajak ke Masjid Baiturrohmanurrohim untuk melakukan observasi. Guru meminta siswa membawa alat tulis untuk mencatat hal-hal yang mereka lihat dan temui di sana.Semua siswa melakukan observasi di masjid tersebut dimulai dari depan kemudian masuk ke dalam. Hal ini dilakukan agar mereka dapat mengamati keadaan masjid secara tertib agar tidak mengganggu lingkungan sekitar. Siswa mulai mencatat, guru memberikan penekanan kembali tentang tugas atau tulisan yang harus dibuat siswa. Guru menjelaskan poin-poin yang harus mereka catat antara lain lokasi, fasilitas yang ada, dan keadaan lingkungan masjid. Siswa secara berkelompok mencatat hal- hal yang mereka amati. Setelah merasa cukup mencatat hal-hal yang akan dijadikan sebagai bahan tulisan, siswa diajak kembali ke kelas. Sesampai di dalam kelas, guru bertanya tentang hal-hal apa saja yang mereka dapatkan dari kegiatan observasi tadi. Siswa terlibat diskusi tentang hasil observasinya dengan siswa lain dan guru. Guru kemudian membagikan kertas sebagai lembar kerja untuk siswa. Selama kegiatan pembelajaran berlangsung siswa tampak tertib mengikuti pembelajaran dan guru tidak bosan-bosannya mengingatkan kepada siswa yang terlibat kurang aktif. Sesekali guru berkeliling kelas untuk mengamati pekerjaan siswa dan mendekati siswa yang gaduh atau mereka yang terlihat mempunyai kesulitan. Beberapa siswa ada yang bertanya kepada guru dan guru menjawab pertanyaan siswa dengan sekali-kali memberi semangat kepada siswa. Setelah waktu yang telah disediakan untuk menulis usai, siswa mengumpulkan hasil pekerjaannya, kemudian guru memberi simpulan materi yang diajarkan dan menutup pelajaran.

c. Pengamatan (Observasi)
Kegiatan observasi dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran baik di ruang kelas maupun pada saat berkunjung ke Masjid Baiturrohmanurrohim. Pada siklus II ini peneliti melakukan pengamatan terhadap tindakan guru, siswa dan hasil karangan siswa. Observasi dilakukan untuk membandingkan hasil antara siklus II dengan siklus sebelumnya. Seperti pada siklus sebelumnya, observasi difokuskan pada situasi pelaksanaan pembelajaran, kegiatan yang dilaksanakan guru serta aktivitas siswa dalam pelajaran menulis. Pada saat melakukan kegiatan observasi, peneliti bertindak sebagai partisipan pasif dan duduk di kursi paling belakang, Peneliti mengamati tindakan siswa ketika menulis. Dari pantauan peneliti, keaktifan siswa mencapai 70%. Seluruh siswa memperhatikan pembelajaran. Tidak ditemui siswa yang mengantuk, bosan, menopang dagu atau asyik beraktivitas sendiri. Suasana kelas kondusif, mereka merasa nyaman dan pembelajaran pun tampak menyenangkan. Tidak ada lagi siswa yang berjalan-jalan untuk melihat dan mencontoh hasil tulisan temannya, mereka terlihat mandiri dalam mengerjakan tugas dari guru. Guru melibatkan siswa dalam pembelajaran sehingga siswa dan guru saling mendukung dan bekerjasama dalam kegiatan pembelajaran.

d. Analisis dan Refleksi
Proses pelaksanaan tindakan pada siklus II berjalan dengan baik. Kelemahan pada siklus I dapat teratasi dengan baik. Hal ini membuat kualitas pembelajaran menulis mengalami peningkatan yaitu 70% siswa telah aktif pada siklus II. Peningkatan kualitas pembelajaran terlihat dari tercapainya sejumlah indikator yang telah ditetapkan seperti peningkatan keaktifan, perhatian serta konsentrasi siswa dalam pembelajaran, guru telah berhasil membangkitkan minat dan motivasi siswa untuk mengikuti pembelajaran menulis dengan baik dan tertib.
Hasil tulisan siswa menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan keterampilan menulis siswa. Dilihat dari segi isinya, tulisan siswa pada siklus II ini jauh lebih baik dibandig siklus sebelumnya. Kosakata yang digunakan sebagian siswa lebih bervariasi. Siswa telah mampu mengorganisasikan gagasan dengan baik. Sudah ada kesesuaian antara isi tulisan dengan objek yang diamati. Nilai tertinggi siswa pada siklus ini adalah 80 dan nilai terendah siswa adalah 50.
Ketuntasan hasil belajar menulis deskripsi siswa mencapai 75,6%. Hal ini terlihat dari hasil kerja tulisan siswa berupa tulisan deskripsi dan dihitung dari jumlah siswa yang memperoleh nilai 65 ke atas yaitu 31 siswa.

Tabel 4. Perolehan Nilai Menulis Pada Siklus II.

No Nama Siklus I Jumlah
I II III IV V
(1-30) (1-25) (1-20) (1-5) (1-10)
1 Nuria Yunita Putri 20 20 15 10 5 80
2 Fety Widiawati 25 20 15 10 3 73
3 Khusnul Khotimah 20 15 15 10 4 65
4 Poppy Septiana 20 20 15 10 4 69
5 Zainal Muztafa 25 20 15 10 3 73
6 Wahyuningsih 20 20 15 10 3 68
7 Lastri yani 20 15 12 10 4 66
8 Fatimah Nur Rochim 15 15 15 15 4 64
9 Arofah Rita 20 20 15 11 4 70
10 R. Adinda 20 20 15 8 3 66
11 Titis suci Sukmawati 20 15 10 10 3 58
12 Ana Astiana 20 20 15 10 4 65
13 Muhamad Syaeful 20 20 15 11 3 69
14 Mujiati 20 20 15 11 4 70
15 Khairul Mukaromah 20 15 15 11 4 65
16 Dani setyawati 25 20 10 10 5 70
17 Anis Mutmainah 25 20 16 10 4 71
18 Sumarti 25 20 15 10 3 68
19 Nia Agustina 20 20 15 10 3 68
20 Az Zahrawani 30 20 15 10 4 80
21 Mega Nanda 20 15 15 12 3 65
22 Emy Ayu Ningsih 20 20 10 10 4 64
23 Yulianti 20 20 14 10 5 69
24 Arfi Anjani - - - - - -
25 Anis Dwi Wibowo 20 20 10 8 3 61
26 Tuti Lestari 15 15 11 10 4 55
27 Nur Dwi Handayani 20 15 10 10 4 65
28 Rita Dwi Astuti 20 15 10 10 4 59
29 Kushadiana 20 15 12 12 4 63
30 Agus Sulistianto 20 20 15 8 2 65
31 Joko Santoso 20 20 10 10 3 63
32 Anggun Larasati 20 20 15 10 4 69
33 Rosita Dewi 20 20 15 10 4 69
34 Ira Pramuda 15 15 8 8 5 50
35 Ade Candra 20 15 10 8 2 50
36 M. Alfian, F.W 20 20 14 11 4 69
37 Rita Prasetyo 25 20 15 10 3 73
38 Robi Santoso 20 20 15 10 3 68
39 Wahyu L 20 20 10 10 3 63
40 Indri 20 20 15 10 3 68
41 Nurul Rahmawati 20 20 15 10 4 69
42 Jeffri - - - - - -

Ket: I : Isi
II : Organisasi
III : Tata Bahasa
IV : Kosakata
V : Ejaan
- : siswa tidak masuk

Berdasarkan hasil analisis dan refleksi di atas, tindakan pada siklus II dikatakan berhasil. Peningkatan terjadi pada beberapa indikator bila dibandingkan siklus sebelumnya. Dengan demikian pembelajaran menulis yang telah dilaksanakan telah menunjukkan adanya peningkatan.

B. Pembahasan

Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) dilaksanakan peneliti dalam dua siklus. Tiap siklus dilaksanakan dalam empat tahap yang meliputi: (1) tahap perencanaan dan persiapan tindakan, (2) tahap pelaksanaan tindakan, (3) tahap observasi, dan (4) tahap analisis dan refleksi. Masingmasing siklus dilaksanakan dalam satu kali pertemuan dengan alokasi waktu 2 jam pelajaran (2×35 menit).
Sebelum dilaksanakannya penelitian, peneliti melakukan koordinasi dengan guru Bahasa Indonesia untuk mengetahui kondisi siswa kelas II SDN Jugalajaya . Berdasarkan kegiatan survey ini, peneliti menemukan bahwa kualitas proses dan hasil pembelajaran menulis pada siswa kelas II SDN Jugalajaya masih tergolong rendah. Hal ini ditandai dengan indikator sebagai berikut: (1) adanya minat dan motivasi siswa yang masih rendah, (2) sebagian siswa masih belum terbiasa untuk memanfaatkan media tulis sebagai ruang untuk mengungkapkan ide dan gagasam mereka, dengan kata lain siswa belum terbiasa dengan tradisi menulis dalam bentuk tulisan apapun, (3) sebagian siswa membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dapat menuangkan ide dan gagasannya apalagi untuk dapat menggambarkan dalam bentuk kata-kata tentang gambaran suatu objek, (4) siswa belum mampu mengungkapkan ide atau gagasan dengan baik, (5) siswa kurang bisa mengembangkan bahasa, (6) siswa belum mencapai ketuntasan belajar.
Selanjutnya, peneliti berkolaborasi dengan guru kelas II untuk mengatasi masalah tersebut dengan memanfaatkan metode field trip dalam proses pembelajaran menulis. Pemilihan metode tersebut dengan pertimbangan sebagai berikut. Pertama model pembelajaran yang menggunakan metode field trip adalah suatu strategi pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan sebagai sumber dan sarana belajar. Kedua apabila siswa diajak ke lingkungan sekitar siswa dapat melakukan observasi suatu objek yang ada secara langsung, dengan demikian diharapkan siswa dapat menuliskan penggambaran suatu objek secara lebih jelas dan terperinci. Melalui penggambaran secara nyata terhadap suatu objek, secara tidak langsung membuat pembelajaran menulis akan berjalan lebih efektif karena daya imajinasi siswa dapat berkembang.
Peneliti dan guru kelas II kemudian menyusun rencana untuk siklus I. Siklus I ini mendeskripsikan pembelajaran menulis dengan metode field trip yaitu perumahan yang berada di dekat sekolah. Ternyata masih terdapat kelemahan atau kekurangan dalam pelaksanaannya. Siklus II dilaksanakan untuk mengatasi kelemahan atau kekurangan yang ada pada siklus I. Selain itu, siklus II merupakan siklus yang menguatkan siklus I bahwa observasi atau kunjungan ke tempat tertentu dapat meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran menulis pada siswa kelas II SDN Jugalajaya.
Berdasarkan tindakan-tindakan tersebut, guru dikatakan telah berhasil melaksanakan pembelajaran menulis dengan metode field trip yang mampu membantu siswa dalam memunculkan ide dan mengembangkannya sehingga kemampuan menulis siswa dapat terkembangkan dengan optimal. Selain itu, penelitian ini juga bermanfaat untuk meningkatkan keterampilan guru dalam mengelola kelas karena metode ini dapat digunakan sebagai sarana bagi guru untuk memotivasi siswa agar lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran menulis.
Keberhasilan metode ini dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran menulis dapat dilihat dari indikator- indikator sebagai berikut.
1. Kualitas proses pembelajaran menulis deskripsi meningkat
Tindakan-tindakan berupa penerapan metode field trip yang dilaksanakan tiap siklus mampu meningkatkan kualitas proses pembelajaran menulis siswa kelas II SDN Jugalajaya. Peningkatan dari segi proses pembelajaran dapat dilihat pada beberapa indikator berikut.
a. Meningkatnya keaktifan siswa.
Keaktifan siswa dalam pembelajaran menulis deskripsi mengalami peningkatan dari siklus ke siklus. Indikator keaktifan siswa dalam proses pembelajaran meliputi keaktifan siswa dalam bertanya, merespon apresiasi, mendengarkan penjelasan dari guru, dan semangat mengerjakan tugas-tugas yang diberikan guru.
b. Meningkatnya perhatian dan minat siswa
Perhatian dan minat siswa dalam proses pembelajaran sangat penting. Untuk menumbuhkan dan memelihara hal tersebut, guru perlu merangsang siswa dengan menerapkan cara-cara baru, unik, ataupun cara-cara yang sudah biasa digunakan. Salah satu cara yang dapat digunakan guru adalah melalui pemanfaatan metode. Dalam penelitian ini, guru memanfaatkan metode field trip.
Setelah adanya tindakan memanfaatkan metode tersebut, perhatian siswa dalam pembelajaran menulis meningkat. Ketika diajak berkunjung siswa tampak senang dan bersemangat. Melalui kegiatan berkunjung siswa tampak terhibur karena dapat melihat dunia luar. Minat serta ketertarikan siswa meningkat setelah guru member motivasi di awal pembelajaran dengan reward bagi siswa paling aktif dalam pembelajaran serta siswa yang memperoleh nilai paling tinggi.
c. Meningkatnya keterampilan guru dalam mengelola kelas
Kemampuan guru dalam mengelola kelas merupakan salah satu penentu keberhasilan dalam suatu proses pembelajaran. Pengelolaan kelas yang dilakukan guru antara lain berupa tindakan memberikan perhatian pada seluruh siswa, memberikan reward dan punishment pada siswa, menyajikan materi dengan mengombinasikan metode ceramah dengan metode lain yang menjadikan siswa tidak jenuh dalam mengikuti pembelajaran, memanfaatkan media pembelajaran, serta memotivasi siswa untuk aktif dalam pembelajaran.
Pada saat peneliti melaksanakan kegiatan survai awal, diketahui bahwa pengelolaan kelas yang dilakukan guru kelas kurang baik. Hal ini dapat tercermin dari indicator sebagai berikut:
 Guru kurang bisa membangkitkan minat dan motivasi siswa untuk aktif dalam
pembelajaran.
 Posisi guru lebih sering berdiri di depan kelas.
 Guru kurang memberikan reward dan punishment kepada siswa.
 Guru kurang bisa menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan bagi siswa.

Setelah tindakan dilaksanakan, sedikit demi sedikit kelemahan guru mulai berkurang. Kemampuan guru dalam mengelola kelas semakin meningkat. Guru tidak lagi terpancang pada kegiatan belajar yang harus dilaksanakan di ruangan kelas. Guru tidak lagi bertindak sebagai guru yang menguasai kelas sepenuhnya tetapi lebih berperan sebagai fasilitator dalam pembelajaran. Guru membangkitkan minat dan motivasi siswa dengan cara memberikan reward bagi siswa yang memperoleh nilai baik. Selain itu, guru juga memberikan punishment bagi siswa yang tidak memperhatikan pelajaran.

2. Kualitas hasil pembelajaran menulis deskripsi meningkat
a. Meningkatnya keterampilan menulis siswa.
Berdasarkan survai awal yang telah dileksanakan, secara keseluruhan dapat ditarik kesimpulan bahwa keterampilan menulis siswa masih rendah. Rendahnya keterampilan menulis tersebut ditandai oleh indicator sebagai berikut: 1) adanya minat dan motivasi siswa yang masih rendah, 2) sebagian siswa masih belum terbiasa untuk memanfaatkan media tulis dalam bentuk tulisan apa pun, 3) sebagian besar siswa membutuhkan waktu cukup lama untuk dapat menuangkan ide dan gagasannya apalagi untuk dapat menggambarkan dalam bentuk kata-kata tentang gambaran suatu objek, 4) siswa belum mampu dalam mengungkapkan ide atau gagasan dengan baik, 5) siswa kurang bias mengembangkan bahasa, 6) pemanfaatan potensi kata kurang. Setelah dilakukan tindakan dengan menerapkan metode field trip keterampilan menulis siswa menjadi meningkat, hal tersebut dapat terlihat dari: (1) meningkatnya minat dan motivasi siswa untuk mengikuti pembelajaran, (2) hasil tulisan siswa menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan keterampilan menulis siswa. Dilihat dari isinya tulisan siswa pada siklus II jauh lebih baik dibanding siklus sebelumnya, (3) munculnya kreativitas dan imajinasi siswa dalam menyusun kalimat-kalimat menjadi sebuah tulisan yang baik, (4) ada kesesuaian antara tulisan dan objek yang digambarkan.
b. Perolehan nilai menulis siswa meningkat
Berdasarkan kegiatan pretes yang dilakukan pada survai awal, diketahui bahwa keterampilan menulis siswa masih tergolong rendah. Hal ini terlihat dari capaian nilai menulis siswa. Nilai perolehan terendah pada siklus I diperoleh oleh 1 orang siswa dengan nilai 45 dan nilai tertinggi diperoleh oleh 1 orang siswa dengan nilai 74. Pada siklus II nilai terendah diperoleh 1 orang siswa dengan nilai 50 dan nilai tertinggi diperoleh 2 siswa dengan nilai 80.

V. KESIMPULAN DAN TINDAK LANJUT
A. Kesimpulan
Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) penerapan metode field trip dapat meningkatkan pembelajaran menulis. Hal ini ditandai dengan persentase keaktifan, perhatian, konsentrasi, minat dan motivasi siswa dalam pembelajaran menulis yang mengalami peningkatan pada setiap siklusnya. Pada siklus I siswa yang aktif sebesar 60% sedangkan pada siklus II siswa yang aktif meningkat menjadi 70%, (2) penerapan metode field trip dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis. Hal ini ditandai dengan nilai hasil tulisan siswa yang mengalami peningkatan. Pada siklus I nilai terendah siswa adalah 45 dan nilai tertinggi siswa adalah 74. pada siklus II nilai terendah siswa adalah 50 dan nilai tertinggi siswa adalah 80, (3) ketuntasan hasil belajar siswa meningkat. Dalam pretes hanya 10 siswa yang mencapai ketuntasan hasil belajar ( memperoleh nilai 65 ke atas). Pada siklus I ketuntasan belajar siswa meningkat menjadi 38,09% atau sekitar 16 siswa kemudian pada siklus II menjadi 75,6% atau sekitar 31 siswa.

B. Saran Tindak Lanjut
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka dapat dikemukakan saran-saran sebagai berikut:

1. Bagi kepala sekolah
a. Kepala sekolah hendaknya selalu menganjurkan kepada semua guru untuk mengajar
dengan metode yang membuat siswa aktif, merasa senang, dan nyaman sehingga kejenuhan
akan terhindar.
b. Kepala sekolah hendaknya menyediakan sarana yang dapat mendukung kegiatan
pembelajaran agar dapat berjalan secara optimal.

2. Bagi guru mata pelajaran bahasa Indonesia
a. Guru hendaknya selalu berusaha memberi dorongan kepada siswa untuk lebih aktif berlatih
menulis.
b. Guru hendaknya mengajar dengan menggunakan metode yang bervariasi sehingga
membuat siswa lebih nyaman.
c. Guru hendaknya memberikan perhatian dan waktu yang lebih banyak pada mata pelajaran
menulis karena menulis merupakan suatu keterampilan yang tidak mudah.

3. Bagi siswa
a. Siswa hendaknya banyak membaca berbagai buku baik fiksi maupun non- fiksi untuk
membantu meningkatkan kemampuannya dalam menulis karangan.
b. Siswa hendaknya lebih banyak berlatih menulis karena menulis merupakan aktifitas yang
memerlukan latihan yang konsisten.
c. Siswa hendaknya aktif dan belajar menggali ide tulisan melalui berbagai sumber, salah
satunya melalui metode field trip.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsini dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara
Istanti, Wati. 2007. Penerapan Pendekatan Keterampilan Proses Untuk
Meningkatkan Kemampuan Menulis Ilmiah Pada Siswa Kelas XII
Progam Bahasa (PTK di SMA N 3 Sukoharjo). Skipsi: UNS
Keraf, Gorys. 1981. Eksposisi dan Deskripsi. Jakarta: Nusa Indah
Latifah, Khusnul. 2007. Peningkatan Keterampilan Menulis Dengan Media
Gambar Berseri Pada Siswa Kelas X SMA N 5 Surakarta. Skripsi: UNS
Marahimin, Ismail. 1999. Menulis Secara Populer. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya
Nurgiyantoro, Burhan. 2001. Penilaian Dalam Pembelajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE
Parera, Jos Daniel. 1993. Menulis Tertib dan Sistematik. Jakarta: Erlangga
Rahmawati, Laili Etika. 2007. Pengaruh Pembelajaran dan Kemampuan Penalaran Berbahasa Terhadap
Kemampuan Menulis Deskripsi Siswa Kelas X SMA N I Gemolong dan
SMA N I Sragen. Tesis: Program Pascasarjana
Rahmawati, Titin. 2008. Peningkatan Keterampilan Menulis Dengan Metode berkunjung ke Lingkungan
Sekitar (Fiedl Trip) Pada Siswa Kelas V SD Negeri I Kulurejo Kecamatan
Nguntoronadi Kabupaten Wonogiri
Tahun ajaran 2007/2008. Skripsi: UNS
Roesiyah. dkk. 2001. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta
Sagala, Syaiful. 2006. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabet
Semi, M. Atar. 1993. Menulis Efektif. Padang: Angkasa Raya
Subyakto, Sri Utami dan Nababan. 1993. Metodologi Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta:
Gramedia
Sumarlam. 2003. Teori dan Praktik Analisis Wacana. Surakarta: Pustaka Cakra
Sutiamiharja, Agus. dkk. 1997. Petunjuk Praktis Menulis. Jakarta: Dirjen Dikti Dekdikbud
Tarigan, Henry Guntur. 1983. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa
The Liong Gie. 2002. Terampil Mengarang. Yogyakarta: Andi

About kelompok29bgr

Nya abdi atuh...
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s